Suatu hari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melewati kuburan. Dilihatnya seorang wanita duduk di samping kuburan itu sambil menangisi putranya yang telah meninggal. Kepada wanita itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, yang artinya:
”Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!” Wanita itu menjawab,” 
Menjauhlah dariku, sesungguhnya engkau tidak mendapat musibah seperti yang menimpaku.” Nabi pun pergi. Wanita itu awalnya tidak tahu kalau beliau adalah Nabi saw. Kemudian orang-orang memberi tahu bahwa beliau adalah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, maka bersegeralah ia mendatangi rumah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam untuk meminta maaf kepada beliau seraya berkata,”(Tadi) aku tidak mengenal engkau.” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjawab, yang artinya:” Sesungguhnya sabar itu pada benturan pertama.” (HR. Muttafaq’alaih)
Maksudnya, manusia harus bersabar sejak awal musibah menimpanya.
’Ammar bin Yasir, ayahnya, dan ibunya, Sumayyah, masuk Islam. Ketika orang-orang kafir mengetahui keislaman mereka, keluarga Yasir pun diseret dan disiksa dengan amat berat. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melewati keluarga Yasir yang sedang disiksa, beliau bersabda kepada mereka, yang artinya,
”Sabarlah, hai keluarga Yasir! Karena sesungguhnya yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.” (HR. Al-Hakim). 
Keluarga Yasir pun bersabar menanggung semua siksaan yang ditimpakan atas mereka. Sang ayah dan ibu meninggal akibat kerasnya siksa yang diterima. Sang anak pun kemudian menyusul menjadi syahid dalam sebuah peperangan. Berkat kesabaran mereka dalam menanggung penderitaan, keluarga itu menjadi orang-orang yang pertama menuju surga. Mereka adalah contoh paling indah dalam kesabaran dan menanggung penderitaan.
Sebenarnya, sabar itu apa? Sabar adalah komitmen untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menunaikannya dengan sempurna dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta kesiapan jiwa untuk menanggung bermacam musibah dan kesulitan. Seorang muslim harus memperelok diri dengan kesabaran, harus siap menanggung kesulitan, tidak panik, tidak bersedih atas musibah dan deran hidup. Allah telah menyampaikan hal itu dalam firman-Nya:
” Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153)
Sumber: Renungan Harian Seorang Muslim (Dr. Abad Badruzaman, LC, M.Ag), www.belanjamahal.com